Pages

Sabtu, 17 Maret 2012

Suara Jantung dan Denyut Nadi

A. Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan meningkatkan kemampuan mahasiswa:
1.Mendevinisikan sistol, diastole dan siklus jantung.
2.Menggunakan stetoskop untuk mendengarkan suara jantung dan menghubungkan suara jantung dengan siklus jantung.
3.Menentukan panjang normal siklus jantung, perubahan tekanan reelatif yang terjadi di dalam atria dan ventrikel selama siklus dan waktu ketika katub menutup.
4.Menentukan tempat pada toraks dimana suara jantung pertama dan kedua secara jelasdapat didengarkan.
5.Mengukur tekanan darah subyek secara teliti dengan menggunakan sphygmomanometer.

B.Dasar Teori
Ada dua suara jantung yang dapat didengar pada setiap siklus jantung. Suara jantung tersebut biasanya digambarkan sebagai “lup” dan “dup”, serta urutannya adalah sebagai berikut: lup-dup, istirahat, lup-dup, istirahat dan seterusnya.suaraa jantung pertama(lup) diasosiasikan dengan penutupan kelep atrioventricular(Kelep AV) pada permulaan sistol. Suara jantung yang kedua(dup) umumnya diasosiasikan dengan menutupnya katup semilunar yang bertepatan dengan akhir sistol.
Suara jantung abnormal disebut “murmur” dan sering berkaitan dengan masalah perkatupan. Pada katup yang tidak menutup dengan sempurna, penutupan diikuti oleh suatu suara berdesir yang disebabkan oleh aliran darah balik. Suara yang jelas sering digambarkan sebagai bunyi berciut yang tinggi, juga diasosiasikan dengan aliran darah melalui katup yang menyempit.
Secara normal, katup mitral terbuka sedikit lebih cepat sebelum katup trikuspidalis. Katup mitral dapat didengar dengan jelas bila stetoskop ditempatkan di atas apeks jantung, yaitu kira-kira pada ruang sela iga kelima, kurang lebih sama tinggi dengan daerah tengah klavikula. Sedangkan suara katup trikuspidalis paling jelas dapat didengar bila stetoskop digeser ke daerah agak tengan disebelah pinggir kiri sternum. Sama dengan pada katup mitral dan trikuspidalis, pada katup semilunar juga terdapat desinkronisasi penutup katup. Katup semilunar aortic secara normal mengatup dengan bunyi keras lebih dulu daripada katup semilunar pulmonary. Bila subjek pelan-pelan menarik nafas dalam-dalam, maka pengisian ventrikel kanan akan sedikit tertunda (sebab pembuluh darah pulmonary tertekan oleh peningkatan tekanan intrapulmonary).
Setiap kontraksi dan relaksasi ventrikel kiri akan menyebabkan perubahan tekanan pada arteri, yang ditunjukkan dengan membesar mengecilnya arteri, yang juga disebut sebagai denyut nadi. Normalnya kecepatan denyut nadi sama dengan kecepatan denyut jantung. Dalam keadaan istirahat denyut jantung rata-rata 70-76 kali/menit. Denyut nadi dapat diraba dengan mudah pada setiap arteri super fisial, bila arteri ditekan ke tulang atau jaringan padat. Beberapa titik denyut nadi pada permukaan tubuh yang mudah diraba adalah: arteri karotid pada sisi leher, artei temporal anterior htelinga di daerah pelipis, arteri brachial pada fosa antekubital, arteri radial pada sisi lateral permukaan pergelangan tangan pada pangkal ibu jari.

C.Alat dan Bahan
Adapun alat-alat dan bahan yang digunakan:
1. Stetoskop
2. Sphygmomanometer
3. Stopwatch
4. Penggaris millimeter
5. Kapas
6. Alcohol 70%

D.Prosedur/Cara Kerja
1.Mendengarkan Suara Jantung
Membersihkan bagian stetoskop yang akan dipasang di telinga dengan alkohol 70%, membiarkannya kering dulu kemudian memasangnya dengan cara pemasangan yang benar

Menempelkan stetoskop pada dada subyek, pada ruang sela iga kelima di sebelah kiri sternum dekat putting susu kiri. Daerah ini merupakan daerah untuk mendengarkan katup mitral dengan baik.

Mendengarkan dengan baik-baik suara jantung, dimana suara pertama lebih panjang, lebih keras daripada suara kedua yang lebih pendek namun lebih nyaring.

Setelah mendengarkan beberapa menit, kemudian menghitung awktu istirahat antara suara kedua dari satu denyut jantung dan suara perktama denyut jantung berikutnya. Mencatat hasilnya dalam detik

Membandingkan interval waktu ini dengan interval waktu antara suara pertama dan kedua dari suatu denyut jantung tunggal.

Memindahkan bel stetoskop secara horizontal ke arah tengah persis di pinggir sternum untuk mendengarkan suara katup tricuspid lebih jelas.

Melakukan pengamatan pada katup semilunar dengan cara menempelkan stetoskop pada ruang sela tulang iga kedua tepat di kanan sternum. Bila sudah mendengarkannya, meminta subyek menarik nafas dalam-dalam dengan pelan.

Memindahkan stetoskop secara horizontal ke kiri sternum untuk mendengarkan katup pulmonaris

Mendengarkan dengan baik-baik adanya “desinkroni” antara menutupnya kedua katup tersebut pada suara jantung kedua lalu mencatat hasil pengamatan.

2. Palpasi Denyut Nadi Radialis
Meminta subyek duduk dengan tenang, kemudian mencari posisi arteri radial di permukaan pergelangan tangan, persis pada pangkal ibu jari.

Melakukan palpasi, dimana mula-mula tekan arteri radial dengan ujung jaru kedua dan ketiga. Kemudian mengendorkan tekanan pelan-pelan sampai merasakan adanya denyut nadi.

Melakukan perhitungan denyut nadi per menit

Mengulangi tiga kali, dan diambil rata-ratanya

3.Perbandingan Kecepatan Denyut Jantung dan Denyut Nadi
Meminta subyek duduk dengan tenang, pengamat dengan menggunakan stetoskop(menempelkan pada sela iga kelima) dapat menghitung kecepatan jantung apikal, sementara pengamat yang lain secara simultan menghitung denyut nadi radial. Kedua pengamat harus dimulai dan diakhiri pada waktu yang sama.

Mengulangi perhitungan sampai tiga kali kemudian diambil rata-ratanya.

Mendiskusikan apa ada perbedaan denyut jantung apikal tersebut dengan denyut nadi radial.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar